Esai dari Ernst B.Hass ini menekankan bahwa pada awal mulanya setiap orang mungkin akan mempunyai interpretasi yang berbeda tentang apa yang dimaknai sebagai rezim. Demikian halnya dengan Hass, mulanya ia berpikir bahwa: “pemahaman mengenai sebuah rezim tidak lain hanya merupakan sebuah susunan dimana dimana setiap anggota yang berada di dalam susuan tersebut berusaha mengatur dan membatasi konflik kepentingan antara mereka karena adanya kesadaran bersama bahwa terdapat interdependensi yang kuat antar mereka yang sangat mudah memicu terjadinya konflik.”1
Namun pada dasarnya tujuan dari esai atau artikel yang dibuat oleh Hass ini bukanlah untuk menjabarkan pemahaman yang paling benar tentang apa yang disebut dengan rezim, melainkan Hass melalui esai-nya hanya ingin memaparkan pandangan (point of view) dirinya mengenai dinamika rezim guna melengkapi teori-teori yang sudah ada sebelumnya.
Menurut pandangan saya, esai ini menjadi penting untuk dipelajari karena sejatinya, setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Hass, pembelajaran mengenai rezim sangat dinamis dari masa ke masa. “Studi mengenai rezim tidak lagi hanya sebatas studi mengenai kolaborasi internasional yang berkaitan dengan politik, meskipun memang dalam rezim itu sendiri terdapat dimensi politik. Studi rezim saat ini lebih ditekanan sebagai suatu upaya untuk mempelajari pola interaksi antar homo politicus dengan lingkungan (nature) dan budaya (culture).”2 Sehingga studi rezim pada akhirnya dapat menunjukkan rentangan antara pilihan masa lalu dan pilihan masa depan terkait dengan kolaborasi internasional dalam konteks kepentingan dan pemahaman masing-masing pihak (self understanding) yang senantiasa mengalami perubahan.
Poin-poin yang menurut saya penting dalam esai Ernst B.Hass ,antara lain:
ü Rezim merupakan suatu variabel dependen, yang mana pemahaman tentang rezim dari setiap ilmuwan mungkin akan berbeda untuk suatu pertanyaan yang sama mengenai rezim;
ü Rezim muncul ketika suatu negara menyadari bahwa desired outcome mereka tidak akan mungkin tercapai hanya dengan outonomous action, melainkan terdapat interdependensi antar negara satu dengan lainnya sehingga membutuhkan collective action ;
ü Konsep utama (key concept) dalam suatu rezim adalah adanya hegemoni dan koalisi. Setiap negara berjuang untuk mencapai kepentingannya melalui rezim dimana ia tergabung di dalamnya. Dan ketika posisi suatu negara hegemon mulai terkikis, maka kecenderungan yang akan terjadi dalam rezim tersebut adalah negara hegemon tadi mungkin megubah arah kepentingannya atau memillih meninggalkan rezim. Dan kecenderungan yang terjadi pada negara-negara yang lebih lemah (weaker states) adalah membentuk koalisi yang bertentangan dengan hegemon, atau mungkin juga memutuskan keluar dari rezim. Jadi, menurut Hass: “suatu rezim akan tetap ada sepanjang koalisi antar negara-negara hegemon dengan negara-negara yang lebih lemah tetap utuh.”3
ü Menurut Hass, kaum Marxist, pluralis, ecologist, maupun liberal sebenarnya mempunyai pandangan yang sama tentang stuktur, dan tentang bagaimana suatu rezim bekerja. Yang membedakan mereka, hanyalah motif dari adanya rezim itu sendiri.
- Marxist --> menekankan pada adanya kesetaraan (equity) dalam rezim;
- Liberalis -->menekankan pada efisiensi dan optimalisasi rezim untuk kesejahteraan bersama;
- Ecologist --> menekankan pentingnya rezim untuk physical and biological survival yang dapat mempengaruhi kualitas hidup umat manusia;
- Pluralist --> menekan rezim untuk mempertahankan national outonomy dalam menghadapi interdependensi yang kompleks.
Melihat adanya perbedaan antara kaum Marxist, pluralis, ecologist, dan liberal sebagaimana telah saya jabarkan di atas, Hass kemudian menyimpulkan bahwa: ”kontroversi mengenai rezim muncul karena sebagian mempercayai organic metaphor sementara sebagian yang lain mempercayai mechanical metaphor.”4
I. Rezim dan Organic Metaphor
- Eco-enviromentalism: pikiran yang mendasari golongan ini adalah adanya krisis yang melanda umat manusia, dan kejadian lain yang dapat mengancam kelestarian ras manusia. Sehingga menurut rezim ini perlu adanya upaya untuk mengimbangi science dan religion sehingga tercipta emansipasi dan liberalisasi dalam kehidupan manusia;
- Eco-reformism: para aktor terikat untuk menyelesaikan problem ekonomi-ekologi demi kualitas hidup bersama;
- Egalitarianism: kepentingan para aktor bersifat selfish, jangka pendek, namun juga progresif;
II. Rezim dan Mechanical Metaphor
Hass mengistilahkan 3 pendekatan yang terdapat dalam mechanical metaphor dengan sebutan: liberal, mercantilist, dan mainstream. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan organic metaphor, hal ini dikarenakan pendekatan mechanical metaphor tidak mempunyai komitmen khusus terhadap perkembangan alam/ lingkungan dan budaya. Melainkan, yang lebih ditekankan pada pendekatan ini adalah adanya interdependensi yang lebih compleks antara negara yang satu dengan negara lainnya dalam hal ekonomi dan politik. Atau mereka lebih sering mengistilahkan dengan “the world political economy”.
Hubungan antar negara, menurut pendekatan ini, tidak hanya sebatas hubungan tukar menukar barang, melainkan juga pertukaran dalam hal military security.
Konsep sentral dari pendekatan ini adalah hegemoni. Dimana asumsinya adalah hegemoni menentukan hirarki kekuasaan dalam lngkup hubungan internasional. Aktor-aktor yang bertindak sebagai hegemon lah yang menentukan aliran resources dan juga menentukan jalannya rezim.
Perbedaan antara liberal, mercantilist, dan mainstream, adalah:
- Liberal: kepentingan actor bersifat selfish, dan short-run demi efisiensi bersama;
- Mercantilist : kepentingan aktor bersifat selfish, namun jangka panjang demi kemakmuran dan pertahanan negara;
- Mainstream: kepentingan aktor bersifat selfish dan jangka pendek demi melindungi kepentingan dari koalisi hegemoni (gabungan antara liberalism dan mercantilism).
Kesimpulan dan Opini:
Sejauh saya membaca esai karangan Ernst B.Hass ini, saya dapat menyimpulkan bahwa hal terpenting yang pertama harus kita ingat untuk memahami istilah rezim itu sendiri adalah bahwasanya rezim tidaklah sama dengan order maupun system. Rezim hanya merupakan salah satu dari banyak bagian yang terdapat dalam sistem. Rezim merupakan sekumpulan prinsip-prinsip eksplisit maupun implisit, norma-norma, aturan, dan juga prosedur pembuatan keputusan antara beberapa aktor yang berkumpul/ bergabung dalam pengelompokan tertentu dalam hubungan internasional. Saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Hass, bahwa prinsip utama (key concept) dalam suatu rezim adalah adanya hegemoni dan koalisi. Dan setiap negara berjuang untuk mencapai kepentingannya melalui rezim dimana ia tergabung di dalamnya. Sehingga…
“Rezim tidak selalu merupakan kolaborasi kebijakan, melainkan terkadang rezim hanyalah sebuah bentuk dari koordinasi kebijakan (policy coordination) antara pihak-pihak yang tergabung dalam rezim.” [Hass, p.27]
Dan dengan mengacu pada kutipan:
“Regime can take the form of conventions, international agreements, treaties, or international institutions.” [Int’l Relation Key Concept, p.272]
Maka, menurut pandangan saya, salah satu gambaran nyata adanya prinsip hegemoni dan koalisi dalam rezim dapat saya contohkan misalnya protokol Kyoto . Protokol Kyoto merupakan contoh rezim internasional yang terbentuk atas prakarsa negara-negara adidaya (negara hegemon) dan PBB dengan melibatkan negara-negara berkembang untuk mengatasi masalah perubahan iklim. Negara-negara maju dengan “power”-nya menerapkan hegemoninya terhadap negara-negara berkembang dan mendesak untuk mengurangi emisi gas buang (CO2), namun di sisi lain negara-negara maju sebagai kontributor utama gas CO2 justru masih belum menerapkan pengurangan emisi gas buang yang signifikan. Sehingga kini, negara-negara berkembang tengah berkoalisi untuk mendesak negara maju agar setidaknya mau memberikan bantuan dana guna mendanai program pengurangan emisi gas buang di negara berkembang. Dan diharapkan rezim Int’l berupa kesepakatan Kyoto ini nantinya dapat memberikan dampak yang signifikan untuk kepentingan bersama.
Referensi:
- Krasner, Stephen. 1983. International Regimes. New York : Cornell University Press. p.23-59.
- Griffiths,Martin. 2001. International Relation: The Key Concept. British: Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar